• 21 Apr, 2026

Pemerintah Indonesia dan Prancis sepakat untuk memperkuat kerja sama di bidang transportasi. Salah satunya, Pemerintah Prancis berkomitmen untuk mendukung proyek Light Rail Transit (LRT) di Kota Bandung untuk mengurangi kemacetan di kota metropolitan tersebut.

Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi menegaskan komitmen Indonesia untuk memperkuat kerja sama di sektor transportasi dengan Prancis di bidang transportasi, baik di sektor darat, laut, dan udara.

“Kerja sama ini juga termasuk dalam hal pertukaran pengetahuan, teknologi, serta keterlibatan perusahaan dari kedua negara,” ujar Menhub saat bertemu Menteri Transportasi Prancis Philippe Tabarot di Kementerian Transportasi Prancis, Paris, baru-baru ini.

Pertemuan ini dalam rangka memeringati 75 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia-Prancis. Selain itu, pertemuan ini juga merupakan tindak lanjut dari kesepakatan yang terjalin pada kunjungan kenegaraan Presiden Prancis Emmanuel Macron ke Jakarta pada 28-29 Mei 2025 serta kunjungan Presiden RI Prabowo Subianto ke Paris sebagai tamu kehormatan pada parade Bastille Day 14 Juli 2025.

transportasia.jpg

Dijelaskan, kerja sama ini akan memperkuat hubungan antarnegara sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kedua negara. Menhub Dudy pun yakin hal tersebut akan memberikan manfaat yang luar biasa bagi masyarakat dan perekonomian di dalam negeri, bahkan menciptakan peluang investasi baru bagi perusahaan-perusahaan Prancis yang beroperasi di Indonesia. 

Menurutnya, salah satu langkah konkret yang disepakati oleh kedua negara dalam pertemuan ini adalah proyek pengembangan Light Rail Transit (LRT) di Kota Bandung, Jawa Barat. Pemerintah Prancis menyatakan siap untuk mendukung proyek tersebut melalui pendanaan studi kelayakan serta akan mendorong keterlibatan perusahaan-perusahaan Prancis dalam pengembangan jaringan transportasi perkotaan di Tanah Air.

“Kerja sama ini adalah langkah nyata untuk mendukung pengembangan transportasi massal yang modern dan berkelanjutan di Indonesia,” ungkapnya.

Menhub berharap dukungan dari Prancis untuk proyek LRT Bandung dapat menjadi solusi mobilitas perkotaan dan mengurangi kemacetan di wilayah metropolitan tersebut.

Selain proyek LRT Bandung, kedua negara juga sepakat untuk memperluas kerja sama di sektor maritim dan penerbangan sipil, termasuk penguatan kapasitas keselamatan pelayaran, pelabuhan, serta pertukaran teknologi penerbangan. 

Sementara untuk memastikan kelanjutan kemitraan ini, akan dibentuk kelompok kerja bersama yang bertugas menyusun rencana aksi dan agenda proyek prioritas dalam beberapa bulan ke depan.

Menteri Transportasi Prancis, Philippe Tabarot menyatakan bahwa Indonesia merupakan mitra strategis bagi Prancis, khususnya dalam pengembangan transportasi ramah lingkungan. 

“Keahlian perusahaan-perusahaan Prancis akan mendukung kebutuhan Indonesia di bidang transportasi, dan proyek LRT Bandung menjadi langkah awal kerja sama yang saling menguntungkan,” sebut Tabarot.

Integrasi Transportasi

Pengembangan integrasi transportasi menjadi salah satu upaya Kementerian Perhubungan dalam meningkatkan konektivitas antar moda. Kementerian berkomitmen untuk terus meningkatkan integrasi transportasi guna mendorong masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum, sehingga mewujudkan perkotaan yang lebih nyaman.

transportasi4.jpg
FOTO FOTO ISTIMEWA

“Integrasi transportasi bertujuan untuk menciptakan transportasi yang terintegrasi secara lancar, sehingga terjadi efisiensi biaya, kecepatan, ketepatan, kemudahan dan kenyamanan. Kami memastikan bagaimana antar wilayah terhubung, antara first mile dengan last mile terintegrasi dan berkelanjutan,” ujar Direktur Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda (Intram), Risal Wasal di Jakarta, baru-baru ini.

Rencana pengembangan integrasi transportasi dan multimoda pada Ditjen Intram sepanjang 2025-2029 meliputi 10 kawasan metropolitan, 9 wilayah terpencil, terdepan, tertinggal, dan perbatasan (3TP), 5 Kawasan Sentra Produksi Pangan (KSPP), dan 10 Daerah Pariwisata Prioritas (DPP), termasuk pengembangan 13 stasiun kereta api dan tiga terminal. 

“Konsep integrasi layanan transportasi tidak hanya integrasi fisik saja, melainkan integrasi tarif, integrasi operasional, integrasi informasi, serta integrasi kebijakan,” ujar Risal.

Di sektor transportasi darat, sebanyak 17 layanan angkutan perkotaan di 13 kawasan perkotaan telah terintegrasi dengan simpul stasiun kereta api, antara lain di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Medan, Palembang, Bandung Raya, Surakarta, Semarang, Yogyakarta, Surabaya dan Makassar. 

transportasi3.JPG

Layanan transportasi umum berbasis jalan ini telah melayani stasiun kereta api (KA) perkotaan seperti Moda Raya Terpadu (MRT), Lintas Raya Terpadu (LRT) dan Kereta Commuterline serta stasiun KA antarkota. 

Direktur Prasarana Transportasi Jalan, Toni Tauladan menyampaikan, Kemenhub aktif berkoordinasi dengan pemerintah daerah maupun pemerintah kota dalam mewujudkan integrasi transportasi di sektor transportasi darat. 

“Koordinasi kami terutama dalam hal kebijakan untuk memastikan tingkat layanan yang sama baiknya bagi penumpang angkutan umum. Seperti layanan Teman Bus yang sudah diupayakan terintegrasi dari first mile hingga last mile ,” ujarnya. 

Untuk memperluas serta memperkuat pengembangan integrasi transportasi, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat menyiapkan sejumlah dukungan kepada Ditjen Intram. Antara lain menyiapkan data teknis guna mempermudah Ditjen Intram dalam menyimpulkan integrasi antara moda darat dengan moda lainnya, salah satunya moda kereta api.

“Integrasi ini diperlukan karena di Indonesia sebagai negara kepulauan, sangat jarang terjadi satu layanan transportasi mampu mengakomodir perjalanan dari satu tempat ke tujuan. Untuk itu, integrasi transportasi diharapkan tidak hanya mengakomodasi satu layanan, namun juga antarmoda," papar Toni. 

Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api, Arif Anwar memaparkan, pengembangan integrasi fisik pada bidang perkeretaapian bertujuan mencapai kondisi ideal, di mana ada stasiun multimoda yang terhubung, layanan feeder , kawasan transit oriented development (TOD), fasilitas alih moda, park and ride , serta stasiun dengan desain yang inklusif.

“Kalau sebelum adanya konsep TOD area pemukiman, pedestrian, area bisnis dan transportasi umum terpisah, maka setelah konsep TOD diterapkan diharapkan semua terhubung sehingga mudah memberikan fasilitas kepada masyarakat untuk bergerak,” sebut Arif. 

Implementasi pengembangan integrasi layanan perkeretapian telah dilakukan di beberapa kawasan, diantaranya kawasan TOD Blok M dan Tanah Abang, Sky Bridge integrasi stasiun MRT Asean dan Halte Transjakarta, Kawasan Dukuh Atas, pengembangan Stasiun Baru Jatake serta pengembangan Stasiun Tigaraksa. (Rinaldi)

Muhammad Rinaldi