• 09 Jun, 2026

Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan mencapai US$ 360 miliar pada 2030. Hal itu memberi peluang yang sangat besar terhadap banyak sektor usaha, salah satunya pertumbuhan pusat data atau data center .

Indonesia menjadi salah satu pemain kunci dalam mendorong pertumbuhan pusat data global. Itu dibuktikan Jakarta yang terus memperkuat posisinya sebagai lokasi data center dengan pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara. Data Statista mengatakan nilai bisnis pusat data Indonesia diperkirakan mencapai US$2,52 miliar pada 2025 dan terus naik hingga US$5,82 miliar pada 2030.

Menyikapi momentum ini, tim Manajemen Proyek Colliers Indonesia menekankan pentingnya pelaksanaan Technical Due Diligence (TDD) secara menyeluruh guna mendukung keberhasilan pengembangan dan kinerja operasional jangka panjang.

Rahmat Daresa Alam, Head of Project Management Colliers Indonesia menyampaikan bahwa membangun pusat data di lingkungan perkotaan termasuk Jakarta merupakan investasi dengan risiko tinggi. Untuk itu, memilih lokasi yang tepat bukan sekadar tugas teknis, melainkan keputusan strategis yang memengaruhi keandalan operasional dan hasil finansial.

Dijelaskan, kepadatan kota Jakarta menghadirkan tantangan tersendiri, termasuk risiko banjir, daya dukung tanah yang rendah, serta keterbatasan pasokan air terutama untuk fasilitas berskala besar. Faktor-faktor ini dapat berdampak signifikan terhadap belanja modal dan operasional jangka panjang. 

“Tanpa penilaian lokasi yang tepat, pengembang berisiko menghadapi proyek yang mahal dan kegagalan teknis. TDD dapat membantu mengurangi risiko sejak awal, merumuskan ruang lingkup proyek secara jelas, serta mengendalikan jadwal dan anggaran,” ungkapnya.

Colliers Indonesia mendorong pendekatan ganda dalam penilaian lokasi, yang memastikan kepatuhan teknis sekaligus relevansi kontekstual. Studi terbaru yang dilakukan oleh tim mengidentifikasi faktor-faktor paling krusial yakni lokasi strategis, keandalan infrastruktur, stabilitas lingkungan dan geoteknik.

data-center1.jpg
FOTO FOTO ISTIMEWA

Prioritas ini memungkinkan para pemangku kepentingan untuk mengevaluasi lokasi berdasarkan kelayakan teknis dan keselarasan strategis. Dengan mengintegrasikan technical due diligence sejak awal, kata Rahmat Daresa, maka potensi risiko dapat diidentifikasi lebih dini untuk mendukung transisi yang lebih lancar dari tahap perencanaan hingga tahap operasional.

“Seiring dengan terus berkembangnya ekonomi digital, tim Manajemen Proyek kami mendorong para pengembang dan investor untuk mengadopsi pola pikir ready-to-build yang didukung oleh data, standar, dan wawasan strategis,” ujarnya.

Pergeseran Pasar

Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) menyebutkan tren pembangunan pusat data di Indonesia bakal mengalami pergeseran dalam 3-5 tahun mendatang, dari saat ini di kawasan pusat kota ( in-town ) menuju wilayah pinggiran atau sub-urban.

Ketua IDPRO, Hendra Suryakusuma, mengatakan saat ini geliat pembangunan data center di pusat kota, khususnya Jakarta, masih sangat intens. Namun, dalam jangka menengah hingga panjang, sekitar tiga hingga sepuluh tahun ke depan, arah pembangunan diprediksi akan bergeser ke luar kota.

Menurutnya, pergeseran ini terjadi karena berbagai pertimbangan, terutama harga tanah di Jakarta yang sudah sangat tinggi, serta keterbatasan kapasitas energi dan lahan di ibu kota.

data-center1a.jpeg

Hendra menambahkan, wilayah seperti Bekasi, Jababeka, Karawang, dan Tangerang kini menjadi magnet baru bagi pelaku industri data center berkat dukungan infrastruktur kelistrikan dan konektivitas yang memadai.

Selain itu, kawasan ekonomi khusus ( special economic zone ) seperti Nongsa Digital Park di Batam juga menjadi daya tarik tersendiri.

“Di Nongsa Digital Park, ada 9 pemain dan lahannya sudah sold out . Nongsa menarik karena di situ tidak ada import duty (bea masuk) dan tidak ada pajak penambahan nilai. Hal itu menarik sekali,” ujarnya.

Hendra memprediksi model hybrid kemungkinan akan menjadi pola dominan dalam pengembangan data center di Indonesia pada masa mendatang. Artinya, pemain besar akan tetap memiliki fasilitas di pusat kota untuk memenuhi kebutuhan latency dan compliance , sementara pembangunan skala besar akan diarahkan ke wilayah sub-urban

Beberapa proyek hyperscale telah terlihat di kawasan industri seperti di Deltamas, Surya Cipta, Cibitung, dan Jababeka. Sementara untuk pusat data in town , di Jakarta saat ini terdapat sekitar 25 pemain data center yang membangun fasilitas seperti DCI Indonesia, SM+, Damac Digital, hingga Equinix.

IDPRO memperkirakan kapasitas daya ( power capacity ) data center di Indonesia telah meningkat hampir dua kali lipat dalam 2-3 tahun terakhir. Kondisi itu didorong tiga faktor utama, yakni regulasi domestikasi data, kebutuhan latency rendah, dan pertumbuhan layanan digital seperti fintech, perbankan, e-commerce , dan ojek online. 

Head of Industrial Services Leads Property, Esti Susanti mengatakan distribusi pusat data saat ini masih terkonsentrasi di Jakarta yakni mencapai 55%, sehingga terjadi beban risiko dan menghambat pemerataan. Padahal, di level regional, pasar data center dan komputasi awan ( cloud ) ASEAN sedang berada di jalur pertumbuhan pesat. 

“Proyeksinya bisa mencapai US$600 miliar pada 2030, bahkan berpotensi tembus US$1 triliun apabila ditopang kebijakan yang tepat,” sebutnya. (Teti Purwanti)

 

Teti Purwanti